Polda Sumsel Gelar Forum Diskusi Grup

Polda Sumsel Gelar Forum Diskusi Grup

PALEMBANG. MEDIA SRIWIJAYA,- Waka Polda Sumatera Selatan (Sumsel), Brigjen Pol Rudi Setiawan, secara resmi membuka Focus Group Discussion (FGD), dengan tema 'Tujuan Apakah Budaya?'. Bertempat di Ballroom Aston Grand Palembang. Kamis (6/2/2020).

Tampak hadir pada acara FGD, di antaranya. Selain Waka Polda Sumsel Brigjen Pol Rudi Setiawan juga hadir Gubernur Provinsi Sumatera Selatan H. Herman Deru, Walikota Palembang Harnojoyo, Forkompimda Propinsi Sumatera Selatan, Para Pejabat Utama Polda Sumsel, Para Kasatwil jajaran Polda Sumsel, Para Bupati wilayah Sumatera Selatan, Tokoh agama, Tokoh Masyarakat, utusan Mahasiswa.

Kebiasaan membawa senjata tajam (sajam) di Sumsel bahkan ada sebutan 'Mati Dem Asal Top' yang berujung pada tindak kriminal, bukanlah budaya Sumsel, akan tetapi hanya harga diri saja.

"Tujah (kena tusuk sajam) sudah menjadi fase, bahkan kita sering dengar guyonan dengan istilah 'mati dem asal top' ini wong kito gengsinya luar biasa, ada yang luka, mati gara- gara tujah, ini ada apa sebenarnya?" ungkap Brigjen Pol Rudi Setiawan Waka Polda Sumsel.

Untuk itu diadakannya FGD guna meminimalisir dan mengubah tampilan wajah Sumsel, lebih baik lagi ke depan, hal bukanlah tugas semata Kepolisian akan tetapi semua instansi.

"Beliau (Kapolda Sumsel) sangat ingin sekali peristiwa ini dapat ditekan tidak hanya oleh kepolisian semata akan tetapi seluruh komponen masyarakat di Sumatera Selatan," ujarnya.

Masih dikatakan beliau untuk menciptakan situasi kondisi Sumsel kondusif, merupakan tanggung jawab bersama, ini menjadi tanggung jawab kita semua tidak bisa hanya polisi saja dari pemerintah daerah dari aparat penegak hukum para pemuka agama dan pemuka adat serta segala macam kita harus mengubah wajah Sumatera Selatan.

"Istilah mati dem asal top, harus diubah di mana tiap hari kita membawa pisau cap garpu di pinggang itu harus diubah juga. Semoga FGD ini dapat menemukan akar permasalahan, kita mencari solusi dan ada rekomendasinya buat kita semua kita bergerak bersama-sama menekan semuanya dan melindungi seluruh masyarakat Sumatera Selatan," ujarnya.

Hal senada juga disampaikan Gubernur Sumsel Herman Deru, beliau mengapresiasi dan mendukung langkah kebijakan yang digagas Polri dalam hal ini Polda Sumsel demi menjaga kondisi situasi Sumsel kondusif.

*Ini luar biasa dan ini adalah sesuatu yang sering kita bincangkan di lapangan tetapi tidak pernah kita rumuskan tentang tujah itu budaya atau bukan di Sumatera Selatan ini, ini bukan budaya tetapi masalah manajemen temperamen manajemen emosi;" ungkap Herman Deru..

"Ini tugas besar kita bagaimana menata emosi sehingga kita tidak menjadi orang yang kepepet karena orang yang menunda itu adalah orang-orang yang kepepet rata-rata dengan alasan  membela diri yang ditemukan  itu adalah gagahan dan gengsi inilah yang harus kita kurangi;" harapnya.

Bahkan orang nomor satu di Sumsel ini, mengimbau warga masyarakat untuk meninggalkan kebiasaan membawa sajam, apalagi hal tersebut bukan budaya Sumsel.

"Kita mengimbau berhentilah woi bawa-bawa pisau itu. Jadilah orang yang pede bae yakin kalau kita baik dan orang-orang pun baik pada kita," imbau Herman Deru. (Ly)