Bukit Sulap Hilang Disapu Kabut Asap

Bukit Sulap Hilang Disapu Kabut Asap
Suasana kota Lubuklinggau yang kini tampak berkabut dan Bukit Sulap tidak terlihat akibat kabut asap.(foto ist)

LUBUKLINGGAU, MEDIASRIWIJAYA - Bukit Sulap yang ada di Kota Lubuklinggau, Senin (14/10) hingga pukul 11.00 WIB hilang akibat disulap asap. Hingga dari jarak kejahuan bukit sulap tanpa tidak ada, penyebab hilangnya bukit hilang dipastikan akibat kabut asap yang melanda Kota Lubuklinggau.

Menurut salah seorang pedagang yang ada di Pasar Satelit Kota Lubuklinggau Iin (40) jika bukit sulap hilang sudah sejak pagi akibat kabut asap, dan hingga kini masih tidak menampakan diri. “Ya kayaknya itu asap, bukan embun sebab apabila embun biasanya apabila terkena matahari iya akan hilang, namun hingga siang ini tidak hilang,” katanya melansir linggauklik, Senin (14/10).

Iyapun melanjutkan jika kabut asap seperti ini selama kemarau 2019 baru saat hari ini terlihat bukit sulap hilang, ya bisa dikatakan hari ini kabut asapnya lumayan banyak. Memang sambungnya sebelumnya memang ada kabut seperti ini, namun hanya langit yang terlihat mendung, nah untuk saat ini bukit sulap disulap oleh asap. “Untuk aktifitas sendiri tidak mengganggu saya tetap berdagang, namun mata terasa perih akibat asap,” ungkapnya.

Iin menambahkan jika ia menduga jika asap yang menyelimuti Kota Lubuklinggau bukan dari kota Lubuklinggau, namun ia tidak tahu asap tersebut kiriman dari mana. Sementara memang dari pantauan dilanpangan jarak kejahuan biasanya bukit sulap terlihat hijau, namun kini tampak bukit sulap hilang akibat disulap kabut asap. bahkan saat mendekati kaki bukit, bukit terlihat samar-samar akibat asap.

Sedangkan dari rilies Website BMKG Sumsel mengatakan jika Kondisi Asap Terekstrim di Palembang Kemarau 2019 dan Potensi Hujan 17-18 Oktober. Angin permukaan yang tercatat di BMKG Stasiun Meteorologi SMB II Palembang umumnya dari arah Timur–Tenggara dengan kecepatan 5-20 Knot (9-37 Km/Jam) mengakibatkan potensi masuknya asap akibat Karhutbunla ke wilayah Kota Palembang dan sekitarnya.

Sumber dari LAPAN Tanggal 14 Oktober 2019 tercatat beberapa titik panas di wilayah sebelah Tenggara Kota Palembang dengan tingkat kepercayaan di atas 80% yang berkontribusi asap ke wilayah Kota Palembang yakni pada wilayah Banyu Asin 1, Pampangan, Tulung Selapan, Pedamaran, Pemulutan, Cengal, Pematang Panggang dan Mesuji.

Total titik panas dengan tingkat kepercayaan di atas 80% untuk wilayah Sumsel sebanyak 260 titik, titik panas terbanyak pada wilayah Kabupaten OKI 139 titik panas dan Kabupaten Banyu Asin 67 titik panas.

Kondisi ini menjadikan kondisi terekstrim selama berlangsungnya Karhutbunla dengan indikasi kwantitas dan jarak pandang yang terjadi. Intensitas Asap (Smoke) umumnya meningkat pada pagi hari (04.00-08.00 WIB) dan sore hari (16.00-20.00) dikarenakan labilitas udara yang stabil (tidak ada massa udara naik) pada waktu-waktu tersebut

Fenomena Asap sendiri diindikasikan dengan kelembapan yang rendah dengan partikel-partikel kering di udara, mengurangi jarak pandang, beraroma khas, perih di mata, mengganggu pernafasan dan matahari terlihat berwarna oranye/merah pada pagi/sore hari, hal ini berpotensi memburuk jika adanya campuran kelembapan yang tinggi (partikel basah/uap air) sehingga membentuk fenomena Kabut Asap (Smog) yang umumnya terjadi pada pagi hari.

Jarak Pandang Terendah pada pagi hari tanggal 14 Oktober 2019 berkisar hanya 50-150 m dari jam 06.30-08.30 WIB dengan Kelembapan pada saat itu 95-96% dengan keadaan cuaca Asap (Smoke) yang berdampak 7 (tujuh) penerbangan di Bandara SMB II Palembang mengalami delay (tertunda).

Secara Regional, melemahnya Badai Tropis Hagibis di Laut Cina Selatan dan masih adanya pusat tekanan rendah di wilayah tersebut mengakibatkan adanya aliran massa udara ke arah pusat tekanan rendah tersebut dari wilayah Indonesia, hal ini mengakibatkan tetap menurunnya potensi dan intensitas hujan di wilayah Sumsel tiga hari ke depan (14-16 Oktober 2019).

Kondisi angin timuran yang menuju pusat tekanan rendah di Samudera Hindia akan membawa uap air dari Laut Cina Selatan dan Laut Jawa menyebabkan potensi hujan di wilayah Sumsel bagian Barat-Utara Kabupaten Musi Rawas, Kota Lubuklinggau, Kabupaten Muba, Kabupaten Lahat, dan Kabupaten Muara Enim pada tanggal 17-18 Oktober 2019.

Sedangkan secara Lokal, kondisi hujan akibat faktor lokal (awan konvektif) akan tetap berpotensi di wilayah bagian barat Sumsel dikarenakan kelembapan udara lapisan atas cukup memadai untuk pertumbuhan awan, biasanya hujan yang terjadi berlangsung sebentar, sporadis (berbeda tiap tempat) dan berpotensi petir disertai angin kencang.

BMKG Sumsel mengimbau kepada masyarakat untuk senantiasa menggunakan masker dan berhati-hati saat bertransportasi pada pagi hari (04.00-08.00 WIB) dan sore hari (16.00-20.00) seiring potensi peningkatan partikel udara kering di udara (asap) dan menurunnya jarak pandang, mengkonsumsi banyak air saat beraktifitas di luar rumah untuk menjaga kesehatan dikarenakan udara akan terasa lebih terik pada siang hari karena posisi matahari berada di ekuator (khatulistiwa), tetap mengimbau untuk tidak melakukan pembakaran baik itu sampah rumah tangga maupun dalam pembukaan lahan pertanian/perkebunan, menganjurkan Sholat Istisqo seiring potensi hujan tanggal 17-18 Oktober 2019 dan tetap update peringatan dini cuaca ekstrim BMKG di aplikasi infoBMKG di smartphone anda seiring potensi angin kencang terutama di Sumsel bagian Barat.(net)