8 Hotel di Sumsel Tutup Sementara Waktu

8 Hotel di Sumsel Tutup Sementara Waktu
Ketua PHRI Sumsel, Herlan Asfiudin

PALEMBANG, MEDIA SRIWIJAYA - Sebagai langkah awal untuk memutus rantai penyebaran virus corona yang saat ini melanda Tanah Air, termasuk di Sumatera Selatan. Delapan manajemen hotel yang tergabung dalam Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Sumsel untuk sementara waktu sebanyak 400 karyawan hotel dirumahkan.
Hal ini diungkapkan Ketua PHRI Sumsel, Herlan Asfiudin melalui whatsaap kepada Media Sriwijaya, Rabu (8/4).
“Untuk sementara semua karyawan dicutikan, guna memutus mata rantai penyebaran virus corona. Namun tidak dipungkiri, penurunan drastis jumlah tamu yang menginap turut andil dalam pengambilan keputusan ini, ” katanya.
Herlan menambahkan, Mereka tidak mengalami Pemutusan Hubungan Kerja (PHK), melainkan cuti di luar tanggungan perusahaan. “Nanti kalau kondisi sudah normal dan wabah virus corona sudah berlalu kita akan recovery,” ujarnya
Masih kata Herlan, 8 hotel yang tutup sementara ini di antaranya 4 di Palembang, 2 di Prabumulih, 1 Lubuk Linggau dan 1 OKU Timur. ”Empat hotel yang di Palembang yaitu Santika Premiere Bandara, Sandjaya, Shofa Marwah dan Sentosa, dua hotel di Prabumulih yaitu Note Prabumulih dan Grand citra Prabumulih, Satu di Lubuk Linggau yakni Daffam lubuk Linggau, dan satu hotel OKU Timur yakni Dewi Martapura,” jelasnya.
Menurut pria yang biasa disapa Babe ini, akan tetapi masih ada beberapa hotel kecil yang murah masih tetap beroperasional yang lumayan tamunya karena biaya operasionalnya juga kecil. “Hotel yang kecil masih tetap bertahan karena biaya operasionalnya juga kecil, kalau hotel besar paling berat memang operasionalnya, Semua diserahkan kepada masing-masing hotel, mau tetap buka tapi mengalami kerugian, itu sudah menjadi konsekuensi,”tuturnya. 
Masih kata Babe, pihaknya saat ini sudah meminta dan berharap kepada pemerintah kota Palembang untuk meniadakan pajak PB1 (Pajak hotel dan restoran) untuk sementara sampai kondisi pulih. “Dengan kondisi dunia usaha yang tak menentu ini, kami meminta pemerintah daerah meniadakan pajak restoran dan hotel untuk sementara sampai kondisi pulih. Di kondisi saat ini pajak dianggap memberatkan para pemilik restoran dan hotel,” ungkapnya. 
Wabah virus corona saat ini membuat okupansi turun hampir 90 persen, usaha kami tidak bisa untuk mengangkat okupansi. Masyarakat takut keluar rumah, yang biasanya ke hotel dan restoran sekarang hanya di rumah saja. 
Sebelum adanya virus corona, pengguna jasa hotel kebanyakan di kegiatan seperti seminar, rapat kerja, dan pelatihan. Semua kegiatan itu dibatalkan bahkan perjalanan wisata ada penundaan sebagai antisipasi penyebaran. 
“Pendapatan tidak seimbang dengan biaya operasional sehingga bisa mempengaruhi keberlangsungan bisnis hotel, karena tingkat hunian saat ini cukup memprihatinkan,” tuturnya.(ksm)