5 Kebaikan Sampah Plastik, Tidak Seseram Itu untuk Lingkungan Kalau Saja

5 Kebaikan Sampah Plastik, Tidak Seseram Itu untuk Lingkungan Kalau Saja
Warga membawa barang bawaan menggunakan tas plastik di Pasar Baru, Jakarta, Minggu (14/7).(Foto Ist)

MEDIASRIWIJAYA.com - 5 Kebaikan Sampah Plastik, Tidak Seseram Itu untuk Lingkungan Kalau Saja. Maraknya kampanye mengurangi sampah plastik dengan memberlakukan larangan penggunaan plastik bukan solusi yang tepat dalam menjawab persoalan sampah plastik. Sebab, plastik tidak bisa dipungkiri sudah menjadi solusi positif bagi kehidupan modern dengan sifatnya yang mudah di bentuk apabila terpapar panas dan tekanan.

Seperti yang dipaparkan Komunitas Plastik untuk Kebaikan, memproduksi plastik ternyata lebih hemat energi dibanding produksi paperbag atau alternatef kemasan berbahan dasar lainnya. Sehingga sangat mustahil manusia hidup tanpa plastik.

Saat ini, penanganan sampah plastik pun masih rendah. Hanya 10 – 15% sampah plastik yang didaur ulang. Sisanya menjadi masalah, 60 – 70% sampah plastik ditimbun di TPA dan 15 – 30% mencemari lingkungan perariran karena tidak tertangani.

Berangkat dari permasalahan di atas, Komunitas Plastik untuk Kebaikan bekerja sama dengan Asosiasi Daur Ulang Plastik (ADUPI) dan Ikatan Pemulung Indonesia (IPI) memaparkan 5 hal penting untuk berkontribusi menyelamatkan lingkungan dan memanfaatkan plastik untuk kebaikan.

Buang sampah pada tempatnya

Karakter peduli lingkungan membutuhkan komitmen semua orang, siapa saja harus turut serta dan memiliki peran untuk berkontribusi untuk menyelamatkan lingkungan.

Hal itu dapat dimulai dengan membuang sampah pada tempatnya. Karena yang merusak lingkungan itu bukan plastiknya melainkan karakter masyarakatnya yang membuang sampah sembarangan seperti di lingkungan perairan dan di tempat penimbunan sampah. Ya manfaatkan plastik untuk belanja tidak salah karena sangat bermanfaat, yang salah membuangnya sembarangan.

Melakukan reduce, reuse, dan recycle

Ir Akhmal Zainal Abidin M.SC, PHD, Peneliti ITB, menuturkan konsep reduce, reuse, dan recycle penting untuk dilakukan. Dimulai dengan membeda-bedakan tempat sampah.

"Kalau saya di rumah punya 3 tempat sampah yaitu untuk sampah yang mudah membusuk, sampah yang bisa didaur ulang dan sampah kering yang bisa dibakar. Jadi sampah daur ulang diletakkan di luar rumah agar diambil pemulung. Sampah yang mudah membusuk dikubur di halaman rumah apalagi yang punya kebun karena baik untuk jadi pupuk. Lalu sampah kering dibakar, minimal seminggu 1-2 kali tidak masalah karena tidak berbau saat menumpuk," katanya.

Manfaatkan plastik jadi uang

Ir Akhmal Zainal Abidin M.SC, PHD, Peneliti ITB, menambahkan masyarakat harus disosialisasi manfaat sampah bisa jadi uang atau penghasilan. Ya hitung saja sampah rumah tangga perkeluarga berapa kilogram, tiap sampah plastik yang ditukarkan ke perusahaan daur ulang atau pemulung itu bisa menambah puing uang lho.

Sosialisasikan manfaatkan plastik untuk daur ulang

Dalam hal ini pengusaha daur ulang seperti Prispoly Lengkong, yang juga Ketua Ikatan Pemulung Indonesia, menuturkan sosialisasi pemerintah tidak memakai plastik saat belanja dan mengurangi botol minuman plastik hingga sedotan cukup mempengaruhi penghasilan pemulung.

Ya,  Memproduksi plastik lebih hemat energi dibanding produksi paperbag atau alternatef kemasan berbahan dasar lainnya. Kemudian plastik kresek, botol plastik hingga sedotan itu 100 persen bisa didaur ulang jadi barang bermanfaat lho.

"Seperti lemari, kursi, ember, peralatan rumah tangga hingga mainan anak-anak. Jadi bahan utama semua barang itu ya plastik, didaur ulang dari sampah plastik yang dikumpulkan pemulung dari sampah rumah tangga masyarakat. Ya modal mendaur ulangnya juga murah sehingga barang-barang rumah tangga tersebut juga dijual murah. Ya kalau plastik bekas berkurang dan pemulung banyak yang berganti profesi, harga barang rumah tangga berbahan plastik akan langka dan jadi mahal," katanya.

Plastik bukan diganti tapi dimanfaatkan

Jadi, menurutnya sosialisasi yang tepat itu bukan mengganti produk kemasan plastik seperti botol, sedotan dan plastik kresek dengan bahan lain melainkan mengajak masyarakat mengumpulkan sampah dan menjualnya.

"Ya kata lain jangan buang sampah sembarangan, pilah-pilih sampah yang bisa didaur ulang. Jangan digabung dengan sampah yang membusuk atau berakhir di penimpunan TPA sehingga pemulung pun tak bisa menjangkaunya," kata Prispoly Lengkong, Ketua Ikatan Pemulung Indonesia.(Net)